Beberapa Hal yang Perlu Diketahui untuk Hadapi Bersama Lonjakan Covid-19 Saat Ini
Jakarta - Situasi pandemi virus corona di Indonesia saat ini sedang memasuki masa-masa kritis. Kasus harian COVID-19 sudah menyentuh angka di atas 15 ribu, dan bahkan mencapai 20 ribu kasus pada Kamis (24/6) lalu.
Terus meningkatnya kasus harian COVID-19 dalam beberapa waktu belakangan ini juga berdampak pada kapasitas ruang perawatan di rumah sakit dan pusat isolasi mandiri terpusat.
Rumah sakit kewalahan menangani pasien sehingga harus mendirikan tenda darurat untuk melayani pasien yang terus berdatangan.
Di tengah pandemi yang semakin parah karena masuknya varian corona Delta dan mulai longgarnya protokol kesehatan, ada sejumlah hal-hal yang harus diperhatikan masyarakat.
Koordinator Humas RSDC Wisma Atlet Kolonel Minfiro Semego menjelaskan, memulangkan pasien yang masih dalam kondisi positif corona merupakan kebijakan yang harus diambil jajaran Wisma Atlet. Tentunya keputusan dikeluarkan melalui pertimbangan yang ketat.
"Pasien rata-rata lama tinggal di kita 10 hari. Rata-rata hari ke-7 sudah pada bagus. Kita periksa hasil PCR ada yang positif tapi CT tinggi dan tidak ada gejala," kata Mego.
"Untuk memenuhi pasien dengan CT rendah akhrinya [pasien CT tinggi] kita pulangkan dengan syarat isolasi lagi 14 hari," tambah dia.
Dengan kondisi kebutuhan ruang isolasi, pasien dengan CT tinggi dan masih positif diberi edukasi dan pemahaman. Sehingga mereka yang pulang tahu betul tanggung jawab dan peran mereka setelah kembali ke rumah meski dalam keadaan positif corona.
"Pasien menyadari hal itu karena kita jelaskan baik karena makin banyak yang masuk. Ini juga atas persetujuan dokter penanggung jawab pasien tersebut," ucap dia.
Pasien COVID-19 yang dirawat di Wisma Atlet kondisinya beragam. Salah satu kondisi yang dilihat adalah CT worth.
CT worth merupakan tingkat adanya infection di dalam tubuh seseorang. Semakin kecil angkanya, semakin banyak virus yang ada di tubuh dan berpotensi menularkan ke orang lain.
Minifro mengungkapkan rata-rata CT value pasien corona yang masuk Wisma Atlet cukup rendah.
"Rata-rata yang masuk Wisma Atlet itu CT-nya 11, di bawah 20," ungkapnya.
Dokter Spesialis Ilmu Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Tropik dan Infeksi, dr. Adityo Susilo, mengingatkan pentingnya menjaga tingkat stres dalam tahap penyembuhan. Hal ini juga berlaku pada pasien corona.
"Yang penting adalah kondisi psikis. Bahwa psikologis yang negatif itu ternyata mempengaruhi daya tahan tubuh," kata Adityo.
Adityo yang banyak merawat pasien COVID-19 mengatakan, kondisi psikis yang baik sangat mempengaruhi kondisi tubuh. Semakin pasien merasa stres, tubuh akan semakin lama membaik.
"Saya memang melihat itu, pada pasien-pasien yang optimis dia tetap menjalani tapi rileks, biasanya respons tubuhnya akan lebih baik dibandingkan yang cemas, stres, bahkan depresi," ucapnya.
Pemerintah Kabupaten Tangerang menginstruksikan kepada seluruh kelurahan, desa, hingga kecamatan untuk mendirikan ruang atau fasilitas isolasi di setiap RT. Hal ini sebagai langkah antisipasi adanya lonjakan kasus COVID-19 dengan kriteria Orang Tanpa Gejala atau OTG.
"Kondisi fasilitas kesehatan [faskes] isolasi pasien COVID-19 yang OTG di Hotel Isolasi Yasmin itu sudah overload, makanya untuk antisipasi lonjakan kasus pasien OTG, kita minta ada ruang isolasi di tingkat RT, khususnya yang masuk zona merah dan oranye," kata Bupati Tangerang, Ahmed Zaki Iskandar.
Nantinya, setiap fasilitas isolasi diminta menyediakan dua ruang kamar yang masing-masing kamarnya mampu menampung maksimal dua pasien.
"Setidaknya ada dua ruang kamar, lalu selain per RT, kita juga akan manfaatkan fasilitas daerah atau pemerintah, seperti rumah dinas, dan ini untuk kasus OTG," ujarnya.
Jubir Satgas Penanganan COVID-19, Prof Wiku Adisasmito, mengungkapkan tidak semua pasien dapat dibawa ke rumah sakit. Apalagi bed tenancy price [BOR] rumah sakit nyaris penuh seiring lonjakan kasus akhir-akhir ini.
"Tidak semua pasien COVID-19 harus ke rumah sakit untuk mendapat penanganan lanjut. Pasien dengan gejala berat dan sedang yang berhak didahulukan untuk mendapatkan penanganan, baik isolasi maupun perawatan intensif di rumah sakit," kata Wiku.
1. Gejala berat: Isolasi/perawatan di RS umum/khusus/darurat dengan tanggung jawab faskes rujukan tingkat lanjut
2. Gejala sedang: Isolasi/perawatan di RS umum/khusus/darurat dengan tanggung jawab faskes rujukan tingkat lanjut
3. Gejala ringan: Isolasi mandiri (masyarakat)/ terpusat (pemda) selama 10-13 hari dengan penanggung jawab faskes tingkat pertama
4. Tanpa gejala: Isolasi mandiri (masyarakat)/ terpusat (pemda) selama 10 hari dengan penanggung jawab faskes tingkat pertama
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes, drg Widyawati atau akrab disapa Wiwid, menerangkan kriteria pasien yang harus dirawat dan pasien yang bisa isolasi mandiri.
Secara umum, pasien yang harus dirawat adalah pasien bergejala sedang dengan pneumonia dan pasien kritis dengan komorbid.
"Ada gejala sedang, pasiennya PCR-nya positif, tapi pasien tersebut punya gejala misalnya saturasi oksigen masih baik tapi ada pneumonia. Jadi biasanya pasien gejala sedang tapi pneumonia itu dirawat," kata Wiwid.
"[Kalau] gejala berat, itu pernapasannya tinggi, di atas 24 [kali per menit], kemudian saturasinya [oksigen] di bawah 95. Ada pneumonia, disertai komorbid, kemudian dari sisi usia di bawah atau di atas 60 tahun," imbuhnya.
Sementara pasien yang hanya perlu isolasi mandiri adalah pasien yang dinyatakan positif saat melakukan swab antigen atau RT-PCR, tapi tidak bergejala (OTG). Adapun pasien yang gejalanya ringan juga cukup melakukan isolasi.
Jubir Satgas Penanganan COVID-19, Prof Wiku Adisasmito, meminta semua pihak bijak dalam melihat information positivity rate kasus COVID-19 supaya tak salah menafsirkan keadaan.
Imbauan ini muncul menyusul meningkatnya tren positivity price kasus COVID-19 secara nasional dalam beberapa minggu terakhir.
Wiku menerangkan, positivity rate ditentukan dari jumlah orang yang diperiksa. Sehingga ada beberapa kondisi yang mempengaruhi akurasinya, seperti keterbatasan sumber daya dan akses pada fasilitas tes.
Saat ini, penggunaan fasilitas tes diprioritaskan untuk yang sudah memiliki gejala atau kontak erat. Dengan begitu bukan tidak mungkin hasil tes cenderung menunjukkan positif COVID-19.
Polda City Jaya akan melaksanakan vaksinasi keliling untuk mempercepat kebijakan vaksinasi pemerintah dalam menanggulangi penyebaran virus corona.
Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Pol Sambodo Purnomo Yogo mengatakan, polisi tak hanya menutup akses di 10 lokasi di Jakarta. Di tempat itu, polisi juga melakukan vaksinasi kepada warga.
"Mulai dari 2 malam lalu mulai kami laksanakan vaksinasi keliling, Kemarin di Sabang diikuti hampir 70-an pedagang, kemudian di Bulungan kemarin hampir 100 vaksin yang kita bawa kemarin habis dipakai pedagang Bulungan dan Mahakam untuk memperoleh vaksin. Nanti malam juga kita cari titik lainnya apakah di Kemang nanti atau di titik mana berdasarkan situasi," kata Sambodo.
Permintaan ambulans untuk evakuasi pasien corona tengah tinggi seiring kasus corona yang terus meningkat. Sehingga membuat pasien harus menunggu lama untuk dapat dievakuasi ke rumah sakit.
Demi membantu meringankan beban tenaga kesehatan, Polda City Jaya menyiapkan ambulans yang dapat digunakan untuk evakuasi pasien. Mobil itu disiapkan selama patroli prokes digelar.
"Tadi ada mobil ambulans itu kami siapkan untuk menolong masyarakat yang hendak ke rumah sakit namun tidak memiliki sarana angkut seperti kemarin yang terjadi di Jaksel atau ada sarana angkut namun warga tidak berani," kata Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran.
Terus meningkatnya kasus harian COVID-19 dalam beberapa waktu belakangan ini juga berdampak pada kapasitas ruang perawatan di rumah sakit dan pusat isolasi mandiri terpusat.
Rumah sakit kewalahan menangani pasien sehingga harus mendirikan tenda darurat untuk melayani pasien yang terus berdatangan.
Di tengah pandemi yang semakin parah karena masuknya varian corona Delta dan mulai longgarnya protokol kesehatan, ada sejumlah hal-hal yang harus diperhatikan masyarakat.
Berikut hal-hal yang perlu kamu ketahui untuk menghadapi lonjakan corona saat ini:
Alasan Wisma Atlet Pulangkan Pasien Corona yang Belum Sembuh Benar
Koordinator Humas RSDC Wisma Atlet Kolonel Minfiro Semego menjelaskan, memulangkan pasien yang masih dalam kondisi positif corona merupakan kebijakan yang harus diambil jajaran Wisma Atlet. Tentunya keputusan dikeluarkan melalui pertimbangan yang ketat.
"Pasien rata-rata lama tinggal di kita 10 hari. Rata-rata hari ke-7 sudah pada bagus. Kita periksa hasil PCR ada yang positif tapi CT tinggi dan tidak ada gejala," kata Mego.
"Untuk memenuhi pasien dengan CT rendah akhrinya [pasien CT tinggi] kita pulangkan dengan syarat isolasi lagi 14 hari," tambah dia.
Dengan kondisi kebutuhan ruang isolasi, pasien dengan CT tinggi dan masih positif diberi edukasi dan pemahaman. Sehingga mereka yang pulang tahu betul tanggung jawab dan peran mereka setelah kembali ke rumah meski dalam keadaan positif corona.
"Pasien menyadari hal itu karena kita jelaskan baik karena makin banyak yang masuk. Ini juga atas persetujuan dokter penanggung jawab pasien tersebut," ucap dia.
Pasien COVID-19 yang Masuk Wisma Atlet Rata-rata CT Value-nya 11
Pasien COVID-19 yang dirawat di Wisma Atlet kondisinya beragam. Salah satu kondisi yang dilihat adalah CT worth.
CT worth merupakan tingkat adanya infection di dalam tubuh seseorang. Semakin kecil angkanya, semakin banyak virus yang ada di tubuh dan berpotensi menularkan ke orang lain.
Minifro mengungkapkan rata-rata CT value pasien corona yang masuk Wisma Atlet cukup rendah.
"Rata-rata yang masuk Wisma Atlet itu CT-nya 11, di bawah 20," ungkapnya.
Pasien COVID-19 yang Stres Bisa Perlambat Kesembuhan
Dokter Spesialis Ilmu Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Tropik dan Infeksi, dr. Adityo Susilo, mengingatkan pentingnya menjaga tingkat stres dalam tahap penyembuhan. Hal ini juga berlaku pada pasien corona.
"Yang penting adalah kondisi psikis. Bahwa psikologis yang negatif itu ternyata mempengaruhi daya tahan tubuh," kata Adityo.
Adityo yang banyak merawat pasien COVID-19 mengatakan, kondisi psikis yang baik sangat mempengaruhi kondisi tubuh. Semakin pasien merasa stres, tubuh akan semakin lama membaik.
"Saya memang melihat itu, pada pasien-pasien yang optimis dia tetap menjalani tapi rileks, biasanya respons tubuhnya akan lebih baik dibandingkan yang cemas, stres, bahkan depresi," ucapnya.
Semua RT di Tangerang Diminta Siapkan Tempat Isolasi
Pemerintah Kabupaten Tangerang menginstruksikan kepada seluruh kelurahan, desa, hingga kecamatan untuk mendirikan ruang atau fasilitas isolasi di setiap RT. Hal ini sebagai langkah antisipasi adanya lonjakan kasus COVID-19 dengan kriteria Orang Tanpa Gejala atau OTG.
"Kondisi fasilitas kesehatan [faskes] isolasi pasien COVID-19 yang OTG di Hotel Isolasi Yasmin itu sudah overload, makanya untuk antisipasi lonjakan kasus pasien OTG, kita minta ada ruang isolasi di tingkat RT, khususnya yang masuk zona merah dan oranye," kata Bupati Tangerang, Ahmed Zaki Iskandar.
Nantinya, setiap fasilitas isolasi diminta menyediakan dua ruang kamar yang masing-masing kamarnya mampu menampung maksimal dua pasien.
"Setidaknya ada dua ruang kamar, lalu selain per RT, kita juga akan manfaatkan fasilitas daerah atau pemerintah, seperti rumah dinas, dan ini untuk kasus OTG," ujarnya.
Hanya Pasien Corona Gejala Sedang dan Berat yang Dibawa ke RS
Jubir Satgas Penanganan COVID-19, Prof Wiku Adisasmito, mengungkapkan tidak semua pasien dapat dibawa ke rumah sakit. Apalagi bed tenancy price [BOR] rumah sakit nyaris penuh seiring lonjakan kasus akhir-akhir ini.
"Tidak semua pasien COVID-19 harus ke rumah sakit untuk mendapat penanganan lanjut. Pasien dengan gejala berat dan sedang yang berhak didahulukan untuk mendapatkan penanganan, baik isolasi maupun perawatan intensif di rumah sakit," kata Wiku.
Berikut klasifikasi gejala pasien COVID-19 dan penanganannya:
1. Gejala berat: Isolasi/perawatan di RS umum/khusus/darurat dengan tanggung jawab faskes rujukan tingkat lanjut
2. Gejala sedang: Isolasi/perawatan di RS umum/khusus/darurat dengan tanggung jawab faskes rujukan tingkat lanjut
3. Gejala ringan: Isolasi mandiri (masyarakat)/ terpusat (pemda) selama 10-13 hari dengan penanggung jawab faskes tingkat pertama
4. Tanpa gejala: Isolasi mandiri (masyarakat)/ terpusat (pemda) selama 10 hari dengan penanggung jawab faskes tingkat pertama
Beda Pasien COVID-19 yang Harus Dirawat dan Isolasi Mandiri
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes, drg Widyawati atau akrab disapa Wiwid, menerangkan kriteria pasien yang harus dirawat dan pasien yang bisa isolasi mandiri.
Secara umum, pasien yang harus dirawat adalah pasien bergejala sedang dengan pneumonia dan pasien kritis dengan komorbid.
"Ada gejala sedang, pasiennya PCR-nya positif, tapi pasien tersebut punya gejala misalnya saturasi oksigen masih baik tapi ada pneumonia. Jadi biasanya pasien gejala sedang tapi pneumonia itu dirawat," kata Wiwid.
"[Kalau] gejala berat, itu pernapasannya tinggi, di atas 24 [kali per menit], kemudian saturasinya [oksigen] di bawah 95. Ada pneumonia, disertai komorbid, kemudian dari sisi usia di bawah atau di atas 60 tahun," imbuhnya.
Sementara pasien yang hanya perlu isolasi mandiri adalah pasien yang dinyatakan positif saat melakukan swab antigen atau RT-PCR, tapi tidak bergejala (OTG). Adapun pasien yang gejalanya ringan juga cukup melakukan isolasi.
Prof Wiku: Orang RI yang Sehat Tak Tes COVID-19, Positivity Price Jadi Tinggi
Jubir Satgas Penanganan COVID-19, Prof Wiku Adisasmito, meminta semua pihak bijak dalam melihat information positivity rate kasus COVID-19 supaya tak salah menafsirkan keadaan.
Imbauan ini muncul menyusul meningkatnya tren positivity price kasus COVID-19 secara nasional dalam beberapa minggu terakhir.
Wiku menerangkan, positivity rate ditentukan dari jumlah orang yang diperiksa. Sehingga ada beberapa kondisi yang mempengaruhi akurasinya, seperti keterbatasan sumber daya dan akses pada fasilitas tes.
Saat ini, penggunaan fasilitas tes diprioritaskan untuk yang sudah memiliki gejala atau kontak erat. Dengan begitu bukan tidak mungkin hasil tes cenderung menunjukkan positif COVID-19.
Polda City Akan Gelar Vaksinasi Keliling untuk Warga
Polda City Jaya akan melaksanakan vaksinasi keliling untuk mempercepat kebijakan vaksinasi pemerintah dalam menanggulangi penyebaran virus corona.
Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Pol Sambodo Purnomo Yogo mengatakan, polisi tak hanya menutup akses di 10 lokasi di Jakarta. Di tempat itu, polisi juga melakukan vaksinasi kepada warga.
"Mulai dari 2 malam lalu mulai kami laksanakan vaksinasi keliling, Kemarin di Sabang diikuti hampir 70-an pedagang, kemudian di Bulungan kemarin hampir 100 vaksin yang kita bawa kemarin habis dipakai pedagang Bulungan dan Mahakam untuk memperoleh vaksin. Nanti malam juga kita cari titik lainnya apakah di Kemang nanti atau di titik mana berdasarkan situasi," kata Sambodo.
Polda City Jaya Siapkan Ambulans untuk Bantu Warga ke Rumah Sakit
Permintaan ambulans untuk evakuasi pasien corona tengah tinggi seiring kasus corona yang terus meningkat. Sehingga membuat pasien harus menunggu lama untuk dapat dievakuasi ke rumah sakit.
Demi membantu meringankan beban tenaga kesehatan, Polda City Jaya menyiapkan ambulans yang dapat digunakan untuk evakuasi pasien. Mobil itu disiapkan selama patroli prokes digelar.
"Tadi ada mobil ambulans itu kami siapkan untuk menolong masyarakat yang hendak ke rumah sakit namun tidak memiliki sarana angkut seperti kemarin yang terjadi di Jaksel atau ada sarana angkut namun warga tidak berani," kata Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran.
Komentar
Posting Komentar